Untuk itu, agar kinerja pelayanan tidak terganggu, Pemerintah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu mengusulkan agar rapat yang tidak terlalu penting dilakukan menggunakan media telekonferensi.
"Kita meminta agar rapat-rapat dikurangi, kecuali sangat mendesak dan urgent, makanya kita usulkan segera ditambah jaringannya, jadi rapat cukup menggunakan teleconference saja," ujar Ismer Harahap, Sekretaris Kabupaten Kepulauan Seribu, Senin (4/1).
Selain memakan waktu dan biaya tinggi, kata Ismer, rapat yang digelar di darat tergantung cuaca. Saat kondisi ekstrem, gelombang laut cukup tinggi. Namun, hal itu dapat diatasi menggunakan telekonferensi.
"Khusus di Pulau Karya dan Pulau Pramuka harus bagus jaringan internetnya, karena bukan saja menyangkut pelayanan, tetapi juga terkait administrasi dan gaji pegawai," katanya.
Sebelumnya, mulai Senin (4/1), Kantor Perwakilan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu, di Gedung Mitra Praja, Sunter Jakarta Utara, dipindahkan ke Pulau Karya, Kepulauan Seribu Utara, khususnya bagi unit kerja perangkat daerah (UKPD). Sementara Pusat Administrasi Kabupaten masih tetap di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu Utara.
Sumber : http://www.beritajakarta.com/read/23403/Pemkab_Usulkan_Rapat_Gunakan_Telekonferensi
Read More »
Tampilkan postingan dengan label Pulau Karya. Tampilkan semua postingan
1/06/2016
Sumber : http://www.beritajakarta.com/read/23400/UKPD_Kep_Seribu_Resmi_Pindah_ke_Pulau_Karya#.VoxFBB6ICM8
Read More »
Seluruh unit kerja perangkat daerah (UKPD) di lingkungan Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Administrasi Kepulauan Seribu secara resmi pindah dari Gedung Mitra Praja, Sunter, Jakarta Utara ke Pulau Karya, Kepulauan Seribu Utara, Senin (4/1).
"Sesuai komitmen kami, hari ini resmi semua pindah kantor, dan seluruh aset Gedung Mitra Praja telah kita serahkan kepada gubernur," ujar Ismer Harahap, Sekretaris Kabupaten Kepulauan Seribu.
Dikatakan Ismer, para karyawan tidak lagi beralasan tidak mau pindah atau berkantor dan tinggal di Pulau Karya. Hal itu karena segala kebutuhan seperti air, listrik, dan tempat tinggal telah disediakan.
"Hari ini rencananya PLN akan menambah daya listrik untuk kebutuhan SWRO yang telah ada. Kalau untuk kebutuhan bangunan dan peralatan kantor saja cukup, tapi karena ada SWRO jadi harus ditambah daya," katanya.
Pihaknya, tambah Ismer, berharap seluruh pegawai betah. Semua kekurangan di Pulau Karya akan diperbaiki dan ditambah, termasuk jaringan internet dan telepon.
"Sesuai komitmen kami, hari ini resmi semua pindah kantor, dan seluruh aset Gedung Mitra Praja telah kita serahkan kepada gubernur," ujar Ismer Harahap, Sekretaris Kabupaten Kepulauan Seribu.
Dikatakan Ismer, para karyawan tidak lagi beralasan tidak mau pindah atau berkantor dan tinggal di Pulau Karya. Hal itu karena segala kebutuhan seperti air, listrik, dan tempat tinggal telah disediakan.
"Hari ini rencananya PLN akan menambah daya listrik untuk kebutuhan SWRO yang telah ada. Kalau untuk kebutuhan bangunan dan peralatan kantor saja cukup, tapi karena ada SWRO jadi harus ditambah daya," katanya.
Pihaknya, tambah Ismer, berharap seluruh pegawai betah. Semua kekurangan di Pulau Karya akan diperbaiki dan ditambah, termasuk jaringan internet dan telepon.
Sumber : http://www.beritajakarta.com/read/23400/UKPD_Kep_Seribu_Resmi_Pindah_ke_Pulau_Karya#.VoxFBB6ICM8
Read More »
9/18/2014
Para pedagang kain mulai datang ke Pulau Karya, Pulau Panggang dan Pulau Pramuka pada abad ke-17 salah satunya yang terkenal berasal dari Suku Mandar, Sulawesi yaitu Sri Ayu Dewi dengan nama julukan Darah Putih. Dengan mengendarai Perahu Layar orang Aceh yang dinahkodai oleh Saudin, beliau dihadang oleh sekelompok pasukan perompak (bajak laut) yang berasal dari Kuala sungsang, Palembang. Perahu layar beliau sempat dikejar oleh para gerombolan Bajak Laut tersebut namun dengan kesaktiannya dan Izin Allah SWT perahu tersebut dapat tidak terlihat hingga sampai ke tepian Pulau Panggang dengan selamat. Saat beliau tiba di Pulau Panggang seketika itu juga Pulau Pramuka, Pulau Panggang dan Pulau Karya tidak terlihat oleh para Bajak Laut seakan-akan tidak ada Pulau-pulau di penglihatan para perompak kemudian mereka berbalik arah berlayar ke parairan karang balik layar depan Pulau Semak Daun. Akhirnya setelah sekian lama Sri Ayu Dewi meninggal dan dimakamkan di tepian pantai dataran tinggi di Pulau Pramuka. Pada saat beliau meninggal keluarlah tetesan darah yang amat harum dari salah satu pori-pori beliau dengan darah yang berwarna putih menandakan bahwa beliau adalah orang sakti.
Pada masa tersebut juga di tahun 1530 ada kisah nyata di perairan tengah laut Pulau Pramuka dan Pulau Panggang ada sepasang pengantin yang akan mengambil air minum menuju Pulau Pramuka, perbuatan kedua pengantin ini ternyata melanggar adat leluhur, yaitu berpergian sebelum 40 hari akad pernikahan mereka. Ditengan-tengah perjalanan kemudian Perahu tersebut terbalik dan kedua pengantin itupun tenggelam sambil memelik kendi air. Pengantin dan kendinya akhirnya berubah menjadi batu karang yang dinamakan sekarang Karang Langka-langka.
Pada zaman penjajahan Belanda di Tahun 1527 kawasan perairan Kepulauan Seribu khususnya di Pulau Cina, merupakan salah satu tempat transit para pedagang cina, seringkali gerombolan perompak yang berasal dari keturunan Seka yang datang ke Pulau Cina untuk merampok harta dan membunuh para pedagangnya. Para pedagang tersebut dibunuh dengan cara memanggang mereka di Karang Pemanggang dan dimakan bersama-sama. Saat itu juga para pendekar sakti bermunajat untuk keselamatan Pulau Pramuka, Pulau Panggang dan Pulau Karya dan beberapa saat kemudian Pulau Pramuka, Pulau Panggang dan Pulau Karya kembali tidak terlihat oleh para bajak laut. Kemudian ketika sedang mencari-cari Pulau tersebut Pasukan Bajak Laut dari Suku Seka ini terdampar di karang lebar sampai perbekalan konsumsi mereka habis dan kelaparan, pada akhirnya pimpinan bajak laut tersebut memakan daging temannya sendiri dengan cara di panggang dan baru kemudian dimakan dengan lahapnya.
Read More »
Pada tahun 1627 di Banten sedang terjadi Perang Batu antara penduduk
Banten dan Pasukan Belanda, seorang alim ulama yang sangat sakti yakni
Tubagus Zen dari Pucuk Umun, beliau adalah keturunan dari Keluarga
Kerajaan Padjajaran yang menyerahkan diri untuk kemudian masuk Islam.
Tubagus Zen adalah orang pertama yang tercatat menduduki Pulau Pramuka,
Pulau Panggang dan Pulau Karya. Beberapa saat setelah itu juga datang
beberapa orang sakti diantaranya adalah Tubagus K.H. Rama, Tubagus
Maemunah dan Tubagus Sri Mulyati yang beresal dari tanah Banten. Sampai
pada akhir hayatnya, Tubagus Zen dimakamkan di sebelah timur Pulau
Karya, K.H Rama menghilang ketika beliau sedang bertapa di Pulau Pramuka
sementara Rtubagus Maemunah dan Tubagus Sri Mulyati dimakamkan di Pulau
Pramuka (sekarang menjadi Kantor Kabupaten Administrasi kepulauan
Seribu).
Para pedagang kain mulai datang ke Pulau Karya, Pulau Panggang dan Pulau Pramuka pada abad ke-17 salah satunya yang terkenal berasal dari Suku Mandar, Sulawesi yaitu Sri Ayu Dewi dengan nama julukan Darah Putih. Dengan mengendarai Perahu Layar orang Aceh yang dinahkodai oleh Saudin, beliau dihadang oleh sekelompok pasukan perompak (bajak laut) yang berasal dari Kuala sungsang, Palembang. Perahu layar beliau sempat dikejar oleh para gerombolan Bajak Laut tersebut namun dengan kesaktiannya dan Izin Allah SWT perahu tersebut dapat tidak terlihat hingga sampai ke tepian Pulau Panggang dengan selamat. Saat beliau tiba di Pulau Panggang seketika itu juga Pulau Pramuka, Pulau Panggang dan Pulau Karya tidak terlihat oleh para Bajak Laut seakan-akan tidak ada Pulau-pulau di penglihatan para perompak kemudian mereka berbalik arah berlayar ke parairan karang balik layar depan Pulau Semak Daun. Akhirnya setelah sekian lama Sri Ayu Dewi meninggal dan dimakamkan di tepian pantai dataran tinggi di Pulau Pramuka. Pada saat beliau meninggal keluarlah tetesan darah yang amat harum dari salah satu pori-pori beliau dengan darah yang berwarna putih menandakan bahwa beliau adalah orang sakti.
Pada masa tersebut juga di tahun 1530 ada kisah nyata di perairan tengah laut Pulau Pramuka dan Pulau Panggang ada sepasang pengantin yang akan mengambil air minum menuju Pulau Pramuka, perbuatan kedua pengantin ini ternyata melanggar adat leluhur, yaitu berpergian sebelum 40 hari akad pernikahan mereka. Ditengan-tengah perjalanan kemudian Perahu tersebut terbalik dan kedua pengantin itupun tenggelam sambil memelik kendi air. Pengantin dan kendinya akhirnya berubah menjadi batu karang yang dinamakan sekarang Karang Langka-langka.
Pada zaman penjajahan Belanda di Tahun 1527 kawasan perairan Kepulauan Seribu khususnya di Pulau Cina, merupakan salah satu tempat transit para pedagang cina, seringkali gerombolan perompak yang berasal dari keturunan Seka yang datang ke Pulau Cina untuk merampok harta dan membunuh para pedagangnya. Para pedagang tersebut dibunuh dengan cara memanggang mereka di Karang Pemanggang dan dimakan bersama-sama. Saat itu juga para pendekar sakti bermunajat untuk keselamatan Pulau Pramuka, Pulau Panggang dan Pulau Karya dan beberapa saat kemudian Pulau Pramuka, Pulau Panggang dan Pulau Karya kembali tidak terlihat oleh para bajak laut. Kemudian ketika sedang mencari-cari Pulau tersebut Pasukan Bajak Laut dari Suku Seka ini terdampar di karang lebar sampai perbekalan konsumsi mereka habis dan kelaparan, pada akhirnya pimpinan bajak laut tersebut memakan daging temannya sendiri dengan cara di panggang dan baru kemudian dimakan dengan lahapnya.
Read More »
8/13/2014
10/26/2013
Nah,
rupanya Kepulauan Seribu sebagai bagian dari Jakarta tampaknya tak
terlepas dari eksvansi bangsa yang dikenal memiliki etos kerja tinggi
ini. Ya, para penjelajah samudera bermata sipit ini juga menoreh
cerita masa lalu di salah satu pulau di Kepulauan Seribu di era
pejajahan Bangsa Belanda di Indonesia khususnya di ranah Batavia yang
saat ini bernama Jakarta.
Read More »
Nah,
rupanya Kepulauan Seribu sebagai bagian dari Jakarta tampaknya tak
terlepas dari eksvansi bangsa yang dikenal memiliki etos kerja tinggi
ini. Ya, para penjelajah samudera bermata sipit ini juga menoreh
cerita masa lalu di salah satu pulau di Kepulauan Seribu di era
pejajahan Bangsa Belanda di Indonesia khususnya di ranah Batavia yang
saat ini bernama Jakarta.
Pulau
tersebut adalah Pulau Karya yang terletak di Kelurahan Pulau
Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Pulau yang memiliki luas
daratan sekitar 6 hektar ini sekarang dimanfaatkan sebagai pusat
Kantor Teknis Pemerintahan Kepulauan Seribu dan sejumlah instasi
lainnya, seperti Markas Kepolisian Resor Kepulauan Seribu, Markar
Danramil, dan juga sebagai Tempat Pemakaman Umum (TPU).
Mengenang pulau yang dihiasi pantai pasir putih dengan air laut
dangkal yang jernih ini tak terlepas dari penemuan berbagai macam
alat kerajinan yang identik dengan Tionghoa. Bahkan, saat dilakukan
penilitian oleh Dinas Permusiuman dan Purbakala DKI Jakarta sekitar
Tahun 1973 lalu, ditemukan sejumlah tulang belulang yang memiliki
kemiripan dengan tekstur kerangka tulang orang cina.
Dari
itu, setelah beritapulauseribu.com menelusuri lebih dalam dengan
meminta keterangan sejumlah sesepuh dan orang yang mengetahui sejarah
Pulau Karya yang juga disebut warga Pulau Panggang adalah Pulau Cina
atau Pulau Kuburan Cina. "Sejak 1973 oleh Gubernur Ali Sadikin, pulau
itu diganti nama dengan Pulau Karya. Dulunya kita sebut itu Pulau
Cina atau Pulau Kuburan Cina," ujar Abdullah (49), warga Pulau
Panggang, Kamis (3/1).
Menurut mantan Lurah Pulau Panggang ini, dirinya pernah sering diajak
oleh bapaknya yang kala itu Kepala Kampung (Sekarang Lurah. red)
membantu Petugas Permusiuman dan Purbakala menggali tanah mencari
bukti-bukti sejarah Pulau Karya. "Seingat saya, saat itu banyak
ditemukan keramik dan geraba yang dihiasi tulisan-tulisan cina. Bahkan
di sisi barat pulau yang saat ini jadi TPU ditemukan kerangka
tengkorak orang cina," katanya.
Tak
berhenti mencari fakta bagaimana orang Tionghoa bisa sampai di Pulau
Karya?, beritapulauseribu.com mendapat cerita dari Ambas (52) yang
juga pernah menjabat sebagai wakil lurah di Pulau Panggang. Menurut
dia, konon sekitar tahun 1700-an, saat terjadi eksodus orang-orang
Tionghoa ke Indonesia yang dijadikan pekerja paksa oleh Belanda karena
dikenal memiliki etos kerja tinggi.
Kekejaman Negeri Ratu Elizabet kala itu membuat orang Tionghoa dan
orang pribumi menderita. Tak dikatehui siapa yang menjadi pimpinan
orang Tionghoa melarikan diri dari kerja paksa itu. Menggunakan kapal,
mereka membawa harta benda berupa keramik dan lainnya. "Sayangnya,
saat melintas di perairan Pulau Seribu, orang-orang cina yang
melarikan diri itu diserang wabah penyakit yang mematikan," kisahnya.
Untuk
mengobati serangan penyakit, kata Ambas, kapal itu berlabuh di Pulau
Karya yang saat itu tanpa nama. Mereka berusaha mencari obat dan
bertahan hidup di pulau tersebut. Sayangnya, karena tak ada obat yang
dapat menyembukan penyakit mereka akhirnya satu demi satu meninggal
dan dikubur di pulau itu. "Tidak diketahui apakah ada yang selamat,
tapi kisah itu putus di saat mereka semua meninggal," paparnya.
Kini
jelaslah sudah, kenapa pulau yang berhadap-hapan dengan Pulau
Panggang ini sebelumnya bernama Pulau Cina atau Pulau Kuburuan Cina.
Fakta sejarah menyebutkan peninggalan keramik berornamen cina dan
kerangka tengkorak yang kini tersimpan di musium, membuktikan
orang-orang Tionghoa pernah ada di Pulau Karya dan menjadi tempat
peristirahatan terakhirnya. (kang Lintas)
Read More »
9/23/2013
Read More »
Suku Dinas
Pariwisata dan Kebudayaan (Parbud) Kepulaun Seribu menggelar audisi
pemilihan Putra Putri Bahari 2013 (PPB'13). Audisi dilaksanakan di
Gedung Teknis Sudin Parbud Kepulauan Seribu di Pulau Karya, Kepuluan
Seribu Utara, Sabtu (14/9).
Acara diikuti 60 peserta yang berasal dari enam wilayah kelurahan di Kepulauan Seribu. "Pada tahun ini antusias peserta meningkat dibanding tahun kemarin. Tahun lalu yang mendaftar hanya 40 orang, sedangkan tahun ini mencapi 60 orang," ujar Puji Surono Perwakilan Sudin Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Seribu.
Dari seluruh peserta di Kepulauan Seribu, menurut Puji, akan dipilih menjadi enam peserta. Mereka akan dikarantina di Jakarta darat. Sedangkan untuk peserta dari wilayah Jakarta darat akan diadakan seleksi pada Minggu 15 September. "Jumlah total peserta sebanyak 120, dengan rincian 60 dari pulau dan 60 dari Jakarta darat," jelasnya.
Seorang peserta, Ory Primadita mengatakan, jika dirinya terpilih menjadi peserta pemilihan Putri Putri Bahari, dia akan berusaha sebaik mungkin agar menjadi pemenanga. Sehingga dara dari Pulau Untungjawa ini berjanji akan ikut memajukan promosi wisata di Kepulauan Seribu.
"Motivasi saya jika terpilih nanti akan meningkatkan wisata bahari yang berkelanjutan dan mengembangkan wisata yang belum terkenal yang ada di Kepulauan Seribu," ungkapnya. [Rudianto]
Acara diikuti 60 peserta yang berasal dari enam wilayah kelurahan di Kepulauan Seribu. "Pada tahun ini antusias peserta meningkat dibanding tahun kemarin. Tahun lalu yang mendaftar hanya 40 orang, sedangkan tahun ini mencapi 60 orang," ujar Puji Surono Perwakilan Sudin Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Seribu.
Dari seluruh peserta di Kepulauan Seribu, menurut Puji, akan dipilih menjadi enam peserta. Mereka akan dikarantina di Jakarta darat. Sedangkan untuk peserta dari wilayah Jakarta darat akan diadakan seleksi pada Minggu 15 September. "Jumlah total peserta sebanyak 120, dengan rincian 60 dari pulau dan 60 dari Jakarta darat," jelasnya.
Seorang peserta, Ory Primadita mengatakan, jika dirinya terpilih menjadi peserta pemilihan Putri Putri Bahari, dia akan berusaha sebaik mungkin agar menjadi pemenanga. Sehingga dara dari Pulau Untungjawa ini berjanji akan ikut memajukan promosi wisata di Kepulauan Seribu.
"Motivasi saya jika terpilih nanti akan meningkatkan wisata bahari yang berkelanjutan dan mengembangkan wisata yang belum terkenal yang ada di Kepulauan Seribu," ungkapnya. [Rudianto]
Read More »
9/23/2013
Nah,
rupanya Kepulauan Seribu sebagai bagian dari Jakarta tampaknya tak
terlepas dari eksvansi bangsa yang dikenal memiliki etos kerja tinggi
ini. Ya, para penjelajah samudera bermata sipit ini juga menoreh
cerita masa lalu di salah satu pulau di Kepulauan Seribu di era
pejajahan Bangsa Belanda di Indonesia khususnya di ranah Batavia yang
saat ini bernama Jakarta.
Read More »
Nah,
rupanya Kepulauan Seribu sebagai bagian dari Jakarta tampaknya tak
terlepas dari eksvansi bangsa yang dikenal memiliki etos kerja tinggi
ini. Ya, para penjelajah samudera bermata sipit ini juga menoreh
cerita masa lalu di salah satu pulau di Kepulauan Seribu di era
pejajahan Bangsa Belanda di Indonesia khususnya di ranah Batavia yang
saat ini bernama Jakarta.
Pulau
tersebut adalah Pulau Karya yang terletak di Kelurahan Pulau
Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Pulau yang memiliki luas
daratan sekitar 6 hektar ini sekarang dimanfaatkan sebagai pusat
Kantor Teknis Pemerintahan Kepulauan Seribu dan sejumlah instasi
lainnya, seperti Markas Kepolisian Resor Kepulauan Seribu, Markar
Danramil, dan juga sebagai Tempat Pemakaman Umum (TPU).
Mengenang pulau yang dihiasi pantai pasir putih dengan air laut
dangkal yang jernih ini tak terlepas dari penemuan berbagai macam
alat kerajinan yang identik dengan Tionghoa. Bahkan, saat dilakukan
penilitian oleh Dinas Permusiuman dan Purbakala DKI Jakarta sekitar
Tahun 1973 lalu, ditemukan sejumlah tulang belulang yang memiliki
kemiripan dengan tekstur kerangka tulang orang cina.
Dari
itu, setelah beritapulauseribu.com menelusuri lebih dalam dengan
meminta keterangan sejumlah sesepuh dan orang yang mengetahui sejarah
Pulau Karya yang juga disebut warga Pulau Panggang adalah Pulau Cina
atau Pulau Kuburan Cina. "Sejak 1973 oleh Gubernur Ali Sadikin, pulau
itu diganti nama dengan Pulau Karya. Dulunya kita sebut itu Pulau
Cina atau Pulau Kuburan Cina," ujar Abdullah (49), warga Pulau
Panggang, Kamis (3/1).
Menurut mantan Lurah Pulau Panggang ini, dirinya pernah sering diajak
oleh bapaknya yang kala itu Kepala Kampung (Sekarang Lurah. red)
membantu Petugas Permusiuman dan Purbakala menggali tanah mencari
bukti-bukti sejarah Pulau Karya. "Seingat saya, saat itu banyak
ditemukan keramik dan geraba yang dihiasi tulisan-tulisan cina. Bahkan
di sisi barat pulau yang saat ini jadi TPU ditemukan kerangka
tengkorak orang cina," katanya.
Tak
berhenti mencari fakta bagaimana orang Tionghoa bisa sampai di Pulau
Karya?, beritapulauseribu.com mendapat cerita dari Ambas (52) yang
juga pernah menjabat sebagai wakil lurah di Pulau Panggang. Menurut
dia, konon sekitar tahun 1700-an, saat terjadi eksodus orang-orang
Tionghoa ke Indonesia yang dijadikan pekerja paksa oleh Belanda karena
dikenal memiliki etos kerja tinggi.
Kekejaman Negeri Ratu Elizabet kala itu membuat orang Tionghoa dan
orang pribumi menderita. Tak dikatehui siapa yang menjadi pimpinan
orang Tionghoa melarikan diri dari kerja paksa itu. Menggunakan kapal,
mereka membawa harta benda berupa keramik dan lainnya. "Sayangnya,
saat melintas di perairan Pulau Seribu, orang-orang cina yang
melarikan diri itu diserang wabah penyakit yang mematikan," kisahnya.
Untuk
mengobati serangan penyakit, kata Ambas, kapal itu berlabuh di Pulau
Karya yang saat itu tanpa nama. Mereka berusaha mencari obat dan
bertahan hidup di pulau tersebut. Sayangnya, karena tak ada obat yang
dapat menyembukan penyakit mereka akhirnya satu demi satu meninggal
dan dikubur di pulau itu. "Tidak diketahui apakah ada yang selamat,
tapi kisah itu putus di saat mereka semua meninggal," paparnya.
Kini
jelaslah sudah, kenapa pulau yang berhadap-hapan dengan Pulau
Panggang ini sebelumnya bernama Pulau Cina atau Pulau Kuburuan Cina.
Fakta sejarah menyebutkan peninggalan keramik berornamen cina dan
kerangka tengkorak yang kini tersimpan di musium, membuktikan
orang-orang Tionghoa pernah ada di Pulau Karya dan menjadi tempat
peristirahatan terakhirnya. (kang Lintas)
Read More »
Langganan:
Komentar (Atom)




