Di Pulau
Tidung, Kepulauan Seribu Selatan misalnya, banyak sekali kapal
dilabuhkan di pinggir pantai. Selain kapal yang membawa wisatawan dari
Muara Angke dan kapal milik nelayan, terdapat pula kapal yang menjadi
sarana angkutan umum bagi warga setempat. Setiap
pagi tepatnya pukul 07.00 WIB, baik warga maupun pelancong lokal sudah
berkumpul di salah satu dermaga yang menjadi tempat berlabuh kapal
angkutan umum yang hendak membawa mereka menuju Pelabuhan Rawasaban,
Paku Haji, Tangerang, Banten. Ya, selain Muara Angke, Pelabu Rawasaban
yang berada di Tanggerang juga menjadi pelabuhan favorit masyrakat Pulau
Tidung untuk menuju daratan.
Kapal
tersebut dimanfaatkan warga yang ingin berbelanja baik untuk membeli
sayuran, buah-buahan maupun bahan pokok lainnya seperti beras, minyak
dan terigu hingga bahan bangunan atau material. Dengan tarif yang cukup
murah yakni Rp 25 ribu per orang dalam sekali perjalanan kapal tersebut,
dapat dipastikan terus dipenuhi para penumpang. "Perjalanan
yang ditempuh dari Pulau Tidung ke pelabuhan Rawasaban memakan waktu
sekitar 2,5 jam. Setiap harinya kapal akan berlayar pada pukul 11.00 WIB
menuju Pulau Tidung," ujar Ibrahim salah seorang ABK Kapal, kepada
beritapulauseribu.com, Jum'at (22/8/2014)
Dia
menuturkan, para penumpang seluruhnya duduk di lantai kapal beralaskan
tikar. Namun ada juga yang memilih duduk di bagian atas kapal sambil
menikmati keindahan laut selama perjalanan. Sementara, dibagian belakang
kapal disediakan sebuah toilet yang dapat digunakan oleh penumpang. "Untuk
berlayar, kapal ini hanya mengandalkan kompas. Para pengemudi kapal
rata-rata mendapatkan keahlian ini secara otodidak," jelasnya.
Sementara
itu, Dewi (45), Warga RT 003/04, Kelurahan Pulau Tidung mengaku terbantu
dengan adanya kapal-kapal tersebut. "Dari dulu saya memang membeli
bahan sembako dari pelabuhan Rawasaban, karena disanalah ada pasar
terdekat yang menjadi langganan," tandasnya.
Sumber : http://beritapulauseribu.com

